Maafkan Aku
Bulir-bulir bening itu kembali menjelajahi lekuk pipi halusnya.
Bermuara di kelopak mata, setetes jatuh yang lain pasti mengikuti juga.
Seakan sepakat dengan duka, waktu berlagak penat lantas berputar
perlahan. Membantunya meresapi tiap jengkal kepedihan dengan begitu
khusuk.Sengguk dan isak kembali menjadi musik abstrak pagi itu, melatari munculnya si bola kuning raksasa yang ingin memulai semedinya di cakrawala.
Tak tau sejak kapan gadis ini berada di sudut kamar. Membiarkan tembok menopang pundak kecilnya. Andai aku sekokoh tembok ini, batinnya. Sembari memagut kuat kedua betisnya, meletakkan dagunya di puncak lutut. Menatap kosong ke kolong pembaringan. Ironis sekali.
Anak kunci pintu kamar itu entah sekarang bersarang dimana. Setelah tadi malam di lontar secara kalap oleh pemilik resminya.
Adegan film itu hidup lagi. Adegan kasat mata yang di desain khusus oleh otaknya agar bisa berputar kapan saja tanpa persetujuan empunya. Memori seolah menjadi kasetnya. Kaset yang kini telah terserak di bongkar paksa. Entah oleh siapa.
Di layarnya, terlihat refleksi dirinya, merangkul tangan seorang wanita. Begitu ceria, begitu riang. Wanita yang mempunyai wajah teduh, wajah yang begitu ia rindu, sedang menggenggam tangannya begitu erat. Seakan takut jika ada celah sedikit saja untuk udara maka gadis kebanggaannya itu akan hilang.
Di sela sela adegan itu, samar samar bibir mungil merah jambunya berucap,
“maafkan aku..”
Adegan dengan episode lain lagi berputar. Kini gadis mungil itu tengah terisak, meratapi telapak tangannya yang di aliri cairan merah kecil. Sepeda pertamanya. Sepeda yang kala itu di rasanya telah sengaja mencelakai dirinya. Seolah sedang terbahak melihatnya merintih.
Wanita berwajah teduh itu berlari menghampiri. Mengambil lembut tangannya. Meniupnya, mengecupnya, memeluknya, menimang.
Lantas saja, matanya yang kini tengah disuguhi reka ulang itu menciptakan sungai yang lebih deras tak berhulu.
“maafkan aku..”
Di episode lainnya, sore hari itu, wanita berwajah teduh mulai berlakon. Terlihat sedang menenteng keranjang, ‘ingin kepasar’, batin gadis yang diam-diam sedang memperhatikannya dari belakang. Lalu berlari riang, mengahampiri sang wanita. Ingin ikut, tentu saja. Tapi apa, penolakan didapatnya. Wanita itu tidak akan membiarkan sang gadis bergelut asap pembuangan kendaraan, belum lagi macet, dengan kondisi si gadis yg tengah di dera influenza. Tentu tidak. Sudah barang tentu si gadis yang berkepala batu tidak akan menyerah begitu saja. Mengucurkan cairan yang dari dulu tak ada habisnya itu dari matanya. Menarik narik sisi baju sang wanita. Segala cara.
Walau iba, wanita ini tidak menggoyah putusannya. Gadis ini terlalu berharga, hingga memaksa sang wanita agak membentaknya.
Si gadis tampak takut. Berlari kekamarnya setelah mengutarakan dengan teriak bahwa betapa bencinya dia kepada sang wanita. Walaupun dia tahu kebencian itu hanya sementara, bahkan tidak ada.
Tega sekali mereka, batinnya. Lelaki yang harusnya di panggil ayah selalu sibuk dengan istri pertamanya; pekerjaannya. Sedang sang wanita kini tengah bersenang senang tanpa dirinya. Tega sekali. Bertekad tidak akan keluar kamar seharian ini, yang diapun tahu selalu gagal karena rayuan ajaib lembut sang wanita. Bahkan, itulah yg diharapnya.
Di layar kasat mata yg tak henti nya berputar, nampak senja mulai meredupkan cahayanya.
Tiba tiba secara samar si gadis mendengar kerumunan orang banyak. Walau penasaran, si gadis tetap mempertahankan tekadnya, tidak akan beranjak dari kamar. Tapi derap langkah kerumunan itu semakin jelas, menggoyahkan benteng tak berarti yg di bangun gadis ini. Khawatir mulai menggelayapinya. Sontak dia berlari ke pintu depan.
Deg!
Waktu seakan berhenti, kala di lihatnya wanita berwajah teduh tengah di bopong beberapa lelaki lusuh entah darimana. Kakinya memaku seakan tenggelam ke dalam ubin lantai. Wanita lain terlihat berlari memeluknya.
Jelaskaskan semua ini!
Batinnya mengamuk, tapi mulutnya terkunci.
“sabar ya nak..” gumam wanita asing itu.
Tatapan si gadis seolah berkata, ‘apa ini?’
“ibu kamu tertabrak nak, dia sudah tenang di alam sana..”
Hah?
Apa artinya kata katamu wanita asing?
Tidak, dia bahkan belum merayuku dengan ucapan ajaibnya agar aku keluar kamar.
Tidak!
Dia tidak berhak meninggalkanku tanpa pamit. Dan.. Dan.. Aku belum minta maaf…
Gadis itu terlihat linglung. Semua terlihat layaknya slow motion. Lelaki beristrikan pekerjaannya itu kini mendekatinya. Si gadis menatap murka. Sebenarnya di matanya kini, semuanya terlihat andil atas kepergian sang wanita. Sebelum tangan lelaki itu merengkuh tubuh si gadis, dia berlari ke kamar lantas mengunci pintu dan membuang anak kunci itu entah kemana. Menyandarkan tubuh lunglainya ke sudut ruang. Bersama bulir beningnya, dia mengisak sejadi-jadi, terlelap dalam gelap tak tahu dari kapan.
Adilkah Tuhan?
Betapakah Dia tahu bahwa dirinya tak akan sanggup kehilangan wanita ini?
Semuanya nampak bersalah. Pun bahkan einstein, mengapa dia tidak merealisasikan saja teorinya tentang mesin waktu. Karena sekarang, tak ada yang lebih menggiur benaknya melebihi pelukan sang wanita berwajah teduh.
Terbayang..
Satu wajah, penuh cinta, penuh kasih..
Terbayang..
Satu wajah, penuh dengan kehangatan..
Oh ibu..
(opick)
“maafkan aku, ibu…”
Cerpen Karangan: Ahdiana
Facebook: ahdianna gien
Komentar
Posting Komentar
silahkan komentar yah ;)